Postingan

Tercurah

Situasi sungguh tak mudah. Mulut berkata terserah. Pikiran bilang berserah. Hati berat tuk pasrah. Introspeksi tuk bebenah. Telepas siapa yang bersalah. Tak ingin terpecah. Tak ingin berpisah Aku tak ingin menyanggah. Batinku berdarah. Aku rasa resah. Ingin berkeluh kesah. Aku bersusah payah. Tak henti tuk mengasah. Memahami dan menelaah. Apa-apa saja yang bisa dicegah. Mungkin aku marah. Sudah terlalu lelah. Tapi tak ingin gegabah. Tuk segera menyerah.

Aku dan Lebah

Kisah ini adalah kisah yang menurutku cukup unik. Seekor lebah entah darimana tiba-tiba datang mengusik. Entah kejadian unik atau merupakan kejadian langka. Satu hal yang pasti aku pun masih tidak menyangka. Setelah hari itu berlalu aku tak terlalu menghiraukan. Meski saat itu kehadiran si lebah sulit untuk ku abaikan. Melihat lebah yang mundar-mandir dengan jarak amat dekat. Membuatku tak nyaman dan takut kalau-kalau disengat. Beberapa kali kejadian serupa berulang di tempat yang acak. Merasa jengkel diikutinya kemanapun aku bergerak. Anehnya lagi di setiap kejadian, si lebah selalu sendiri. Aku terintimidasi oleh si lebah yang seakan sedang mem-bully. Anehnya lagi dan lagi seringkali di setiap kejadian, aku sedang berdua. Saat melihat aku di-bully lebah, dia hanya menyuruhku untuk tetap tenang. Bagaimana bisa aku tenang jika si lebah tiba-tiba datang menyerang? Super duper anehnya lagi, si lebah tidak pernah sekalipun mengganggu dia. Ini si lebah pilih kasih sama wanita atau yang sel...

Mereka Takkan Mengerti

Harapan seringkali tak sejalan dengan apa yang terjadi. Bahkan berbanding terbalik menimbulkan kekecewaan. Pro dan kontra di dalam konflik sosial maupun pribadi. Menyebabkan orang menjadikannya bahan tertawaan. Berbicara apa yang menurut pandangan mereka benar. Sorak sorai sebagai “penonton” di dalam kehidupan ini. Menyulut kegaduhan luar biasa untuk sekedar didengar. Hingga mereka memang sengaja untuk mengusik nurani. Anjing akan tenang kepada majikan dan sanak saudara. Tetapi anjing akan menggonggong apabila tidak dikenal. Sepatutnya kita bisa mengetahui mana yang berpura-pura. Sehingga kita bisa membedakan mana yang asli dan asal. Yakinlah pada apa yang menjadikanmu dirimu sendiri. Karena mereka diciptakan untuk takkan pernah berhenti. Tutup telinga dan saring sebab kamulah yang menjalani. Percayalah pada dasarnya mereka takkan pernah mengerti.

Dandelion

Rintangan dalam hidup pernah membuat kita terjungkal. Perih sakitnya hampir-hampir membuat hilang akal. Hidup orang lain yang seringkali menjadi pembanding. Tanpa sadar ego diri berasumsi dan menuding. Padahal jalan hidup setiap orang itu berbeda-beda. Ada yang berjalan cepat, ada yang berjalan santai. Ada yang merangkak, ada yang berlari. Hanya saja pastikan maju gerak langkah kaki. Dandelion mengajarkan kita untuk bisa tumbuh dimana saja. Hujan angin dan panas terik tidak menjadi alasan untuk berhenti. Hembusan angin yang membawa kita bahkan sampai terseok-seok. Bukan menjadi hambatan untuk tetap tegar berdiri. Terhempas jauh dari tempat kita lahir. Tak lupa bahwa semua telah ditentukan oleh takdir. Kuatkan diri untuk menyesuaikan diri hingga mahir. Perjuangkan hidup kita sampai waktu berakhir.

Katanya

Katanya negara demokrasi yang memegang teguh hak asasi. Tapi tidak berlaku bagi oknum berdasi dan rakyat kecil yang terdiskualifikasi. Katanya negara hukum yang berpedoman dari UU dan Pancasila. Tapi “salam tempel” jadi jalan keluar dari masalah yang ada. Katanya semua orang diperlakukan sama di mata hukum. Tapi hanya status sosial atas yang punya privilege dalam forum. Katanya sudah sejak lama merdeka dan berdikari. Tapi dengan terang-terangan warganya dijajah sendiri. Konon katanya.

Next Chapter

Berbagai kejadian yang telah kita lewati. Membentuk diri kita yang berdiri hari ini. Ribuan tetes air mata yang telah terurai. Berharap bahagia yang akan kita tuai. Waktu bukanlah hal yang bisa kita hentikan. Ia akan terus melaju tanpa peduli masa lalu. Mencoba mengubah kesalahan yang disesalkan. Fokus saat ini menjaga kesadaran dan tahu malu. Ketidakmungkinan untuk mengubah masa lalu. Memacu kita agar melakukan yang terbaik. Realitas haru akan selalu berdampingan dengan pilu. Karena tak ada yang tahu jalan mulus atau malah pelik. Buku tentang perjalanan hidup akan terus berlanjut. Suka tidak suka ketika bahkan harapan tak lagi cukup. Memahami garis takdir merupakan hal yang absolut. Kematianlah yang akan menyambut sebagai penutup.

Berpihak Pada Siapa? (Part II)

Pelecehan seksual dan pemerkosaan menjadi topik hangat belakangan ini. Menjadi ramai karena keberanian luar biasa para korban untuk membela harga diri. Korban dari kasus-kasus tersebut yang kebanyakan perempuan. Mereka rela mengungkap aib demi sebuah keadilan. Seharusnya “petugas” itu melindungi dan mengayomi, eh kok malah menghakimi. Seharusnya “pendidik” itu mengajarkan nilai-nilai, eh kok malah moralnya lalai. Seharusnya “tokoh agama” itu membimbing agar tidak tersesat, eh kok malah kelakuannya bejat. Seharusnya “yang punya kuasa” bersikap adil dan membela yang lemah, eh kok malah condong ke pihak yang salah. Pelaku bukan hanya dari orang yang tidak dikenal. Bahkan ironisnya dari keluarga korban sendiri. Lantas dimana tempat perempuan untuk bisa merasa aman, jika lingkungan terdekatnya saja sudah tidak lagi nyaman? Rumah yang katanya tempat terakhir untuk pulang dan mengadu. Berubah menjadi ruang asing sendiri yang dipenuhi sendu. Selalu dihadapkan dengan dilema ketika ingin bicara....

Berpihak Pada Siapa?

Pada suatu hari di sebuah negeri tanpa nurani Banyak kasus amoral yang sedang terjadi Luka dan trauma yang melekat dalam diri Harus para korban rasakan bahkan sejak dini Katanya pelaku manusia, tapi tidak punya rasa manusiawi Hak asasi manusia dan moral konon hanya sebuah ilusi Betapa kejinya perbuatan manusia tak berhati Hingga setan pun dibuat merasa terintimidasi Korban, korban dan korban yang selalu disalahkan Suara korban yang dibungkam menjadi tak terelakkan Selalu ada cara yang dilakukan untuk menyudutkan Dari pelaku yang menyalahgunakan kekuasaan Tak habis pikir jika ada yang membela para pelaku Jelas-jelas birahi merekalah yang tak terbelenggu Dengan biadabnya memasang wajah tak tahu malu Ekspresi yang seolah berkata “ini bukan salahku” Laporan korban diproses dengan lambat Pejabat negaranya pun enggan bergerak cepat Keadilan telah hilang dari kamus institusi Proses hukum hanya berlandaskan kekuasaan tirani Mustahil untuk kasus berjalan dengan mulus Masih seperti bayi yang har...

We Did It

          19 Desember 2019 menjadi salah satu hari yang takkan pernah aku lupakan. Hari dimana ku dapati sebuah pesan darimu yang isinya sungguh membuat hati dan perasaanku tidak karuan. Bagaimana tidak? Kamu memberikan pilihan untuk bertahan dengan segala resiko atau berhenti dan menyudahinya. Aku mencoba memahami dari sudut pandangmu, mungkin kamu ingin aku tak terbebani dengan sakit yang kamu derita yang pada saat itu pun belum diketahui apa penyakitnya. Perlu kamu tahu bahwa ketika masalah datang dan terlihat seperti tak ada jalan keluar, bukan berarti caranya adalah dengan melarikan diri. Apalagi kau dan aku pun tahu bahwa menghadapi masalah sendirian itu bukanlah hal yang terasa nikmat. Kita pasti membutuhkan seseorang yang bisa kita jadikan tempat untuk mendengarkan apapun yang sedang kita rasakan. Kita pasti membutuhkan seseorang yang bisa kita percaya untuk menjadikannya sandaran ketika kita sedang lemah. Mungkin ketika bercerita pun tidak akan menyeles...

Tersesat

Kau pernah terjatuh yang menyebabkan luka pada kepalamu Membuatmu lupa akan segala tentangku Menjadikanku orang asing dalam pikirmu Membuatku sulit untuk menerima itu Sejujurnya aku penasaran apa yang bisa membuatmu terjatuh Tapi aku tak ingin mencari tahu kebenarannya pada saat itu Aku tak ingin pikiranku menjadi berfokus pada masalah lalu Karena saat ini yang kuingin hanya tertuju pada kesembuhanmu Fakta bahwa kau telah melupakanku tak bisa pergi dari pikirku Walau begitu aku tak berhenti mencoba mengobati Karena aku bisa merasakan kau yang sesungguhnya tak pernah pergi Kau yang sebenarnya hanya sedang terperangkap oleh jebakan manusia tak tahu diri Kau hanya sedang tersesat dalam sebuah tipu muslihat Beruntungnya aku menemukanmu dan bersikap cepat Segera ku ajak kau kembali tuk pulang Pulang bersamaku mencari sebuah tenang