Postingan

Jujur Atas Ketidakjujuran

Manusia tidak ada yang sempurna. Kesalahan terjadi disengaja ataupun tidak. Tinggal bagaimana bersikap bijaksana. Untuk tidak mengulang kesalahan yang sama. Berbohong salah satu contoh kesalahannya. Bijaknya segera jujur atas ketidakjujurannya. Mengakui bahwa telah melakukan kesalahan. Tanpa harus mengeluarkan berbagai alasan. Telah lama ku nantikan pengakuanmu. Tentang ketidakjujuranmu kala itu. Meski bekas luka masih membiru. Tetap ku hargai kejujuranmu. Semoga pelajaran ini melekat dalam hati. Menghindari suatu saat akan terjadi lagi. Semoga kita semua bisa sadar diri. Agar tidak ada hati yang akan tersakiti. N.B. Maybe this is my last post for now. Thank you and see you when I see you. Stay safe and healthy everyone 😊

Malam yang Kelam

Tiba-tiba ketakutanku kembali terjadi. Perasaan tak berdaya, beserta perasaan khawatir datang dan menyelimuti lagi. Rasa yang takkan pernah ku lupa betapa menyakitkan dan betapa menyiksa diri ini. Seketika dilanda kebingungan, kegelisahan, tak tenang, bahkan untuk setiap nafas terasa berat. Berpikir mencoba mencari tahu jawaban bagaimana bisa mengatasi masalah ini. Sayang, apapun cara yang terlintas hanya selalu akan melukai isi hati. Mencoba untuk tak peduli akan semua yang telah terjadi. Lagi sayang, luka itu tetap ada dan terus mengusik hati nurani. Aku berada di titik lemahku. Menangis dan mengadu kepada yang Maha Tahu. Demi sebuah ketenangan batin, agar sesak ini segera pergi. Demi tetap tegar dan kuat untuk berdiri. Pilihanku hanya tinggal dua. Menunjukkan segala rasa yang telah ku pendam. Atau kembali kugunakan topeng dan senyum palsuku lalu mengubur sejuta asa dalam-dalam.

Ketidakjujuran dalam Sebuah Kejujuran

Mari kita mulai dengan sebuah ungkapan. Ketidakjujuran dalam sebuah kejujuran. Sebutir persoalan klise tentang perasaan. Atas perlakuan yang menjengkelkan. Siapa yang pernah dibohongi? Jika iya, siap-siap rawat hati. Siapa yang suka dibohongi? Jika iya, selamat datang sakit hati. Mengapa mudah untuk berbohong? Padahal sekali berbohong akan cenderung terus berbohong. Takutkah jujurmu akan melukai? Padahal luka dari ketidakjujuran lebih menyayat hati. Mau sampai kapan hidup dalam rasa bersalah? Belajarlah untuk mulai jujur selagi ada waktu. Sebelum orang-orang berhargamu mulai lelah. Sebelum takdir mengambilnya dari genggamanmu.

Diuji Rindu Sendiri

Sejak dirinya melangkah pergi tak kembali. Hidupku tak berarti dan ku rasa hanya sepi. Dia tinggalkan ku sendiri di sini. Hilang arah tanpa satu yang pasti. Aku tak tahu harus bagaimana. Tiada kawan untukku bercerita Hanya dirimu satu yang ku punya. Karena hangat cintamu yang nyata. Kirim aku malaikatmu, biar jadi kawan hidupku. Dan tunjukkan jalan yang memang kau pilihkan untukku. Kirim aku malaikatmu, karena ku sepi berada di sini. Dan di dunia ini aku tak mau sendiri. Tanpa terasa ku teteskan air mata ini. Tiada berhenti mengiringi kisah di hati. Kepergianmu sungguh menyiksa nurani. Kau tega menguji aku rindu sendiri. Inspired by BCL – Aku Tak Mau Sendiri

Gifts and Curses

I try to be strong for her. Try not to be wrong for her. What if she will not wait for me anymore? Why did I say all those things before I was sure. I try to be careful to take a step before I make a move. Follow the sign and the rhythm to fit in the groove. Every thing's small on the ground below, down below. What if I fall then, where would I go, would she know? She is the one and I have a purpose. She is the one and I have to fight this. She is the one, all that I wanted. She is the one, I will be haunted. This gift is my curse for now. Even when I’m hardly breathe somehow. There are many things I can’t undo. Still I will always fight on for you. Inspired by Yellow Card – Gifts and Curses

Hanya Aku Sendiri

Meredam ego dan melepas semua yang kuinginkan. Meski berat ku jalani, tak akan kuulangi. Bila menantimu adalah kutukan cinta dalam hati. Maafkan aku dan rasaku yang terlanjur menyayangi. Pernahkah engkau bayangkan dan coba untuk mengerti? Melihat kehadiranku untuk menemukan sebuah arti. Memiliki kesempurnaanmu hanyalah sebuah mimpi. Salahkah aku menanti dalam diam tanpa henti? Berjuang sendiri takkan lelah aku menanti. Sanubari menyanggupi takkan hilang cintaku ini. Hingga saat harap mulai pudar dan kau tak kembali. Kau tetap kukenang dan terus hidup dalam hati. Walaupun kau telah pergi dan meninggalkan asa. Membuat hati yang terdalam bertemankan luka. Sendiri dan sepi hingga terkuras tiada lagi cinta. Menjadikan kosong dan hampa yang tersisa di jiwa. Inspired by Noah – Yang Terdalam

Another Year

Di setiap tahun yang telah terlewati. Menyisakan suka duka berbentuk memori. Meski selalu saja ada yang diuji. Menjadi ajang untuk pendewasaan diri. Perjalanan ini perjalanan terpanjangku. Aku tak tahu ku kan mampu melaju. Sejauh ini masih berkawan dengan rindu. Menanti saat dipertemukan oleh waktu. Aku tahu kondisinya belum ideal untuk raga. Aku mengerti jarak ini jauh dari mata. Tiada yang menginginkan situasi ini. Tiada ingin juga untuk mengamini. Tak perlu lagi untuk menerka-nerka. Cukup katakan yang ingin dikatakan. Jujur tuk katakan yang sebenarnya. Biar tak ada rasa yang tertahankan.

Harap dan Realita

Kita tahu bahwa kita punya jalan takdir masing-masing. Entah kita dapat takdir yang banyak senangnya. Entah kita dapat takdir yang banyak susahnya. Entah kita dapat seimbang di antara keduanya. Barangkali ada di antara kita yang merasa bahwa Tuhan tidak adil. “Mengapa dia begitu dan saya begini?” “Mengapa bukan saya tapi malah mereka?” Serta pertanyaan-pertanyaan “menyalahkan” lainnya. Kita tahu atau kita pura-pura belum tahu bahwa semua akan berlalu. Suka duka, pahit manis, hitam putih, naik turun. Dingin malam berganti sejuk pagi. Cerah siang berganti senja sore hari. Kita punya batas waktu masing-masing dalam hidup. Terutama soal perpisahan dan kematian. Tapi kita masih sering berharap bahwa suatu momen bisa cepat berlalu. Atau mungkin kebalikannya, berharap suatu momen berlangsung selamanya. Seringkali kita lupa bahwa waktu terus berputar. Apa yang sedang terjadi takkan abadi. Sadari bahwa harap dan realita tak mungkin setara. Karena semua ada fase dan waktunya.

Jam-jam Overthinking

Terbangun pada jam lewat tengah malam. Entah karena tidur terlalu dini. Entah karena sehabis bermimpi. Atau terpikirkan sesuatu yang “dalam”. Terbangun antara pukul 02.00 hingga 04.00 dini hari. Pikiran sedang berada di puncak konsentrasi. Sekedar ingin minum atau ke kamar mandi. Hingga merenung dan mengadu kepada sang Ilahi. Suasana hening menjadi kawanku dalam diam. Memikirkan beberapa rasa yang terpendam. Membiarkan pikiran untuk terus bergumam. Membiarkan hati untuk terus bersemayam. Suasana sepi menjadi temanku dalam sunyi. Mencoba berbicara dengan diri sendiri. Mendengarkan keresahan batin dan nurani. Merasakan apa yang dirasa dengan empati.

Cinta yang Mana?

Kalau bicara soal cinta, definisi setiap orang pasti berbeda-beda. Perspektif cinta terlalu luas jika harus dipastikan maknanya. Dahulu aku berpikir bahwa cinta itu tentang memiliki. Proses panjang pengalaman mengajarkan aku sebuah arti. Bagian mana dari dia yang sebenernya punya kita? Badan sudah jelas punya dia, pikiran juga pasti punya dia. Aku bisa-bisanya se-egois itu, sampai berpikir orang lain adalah milikku. Padahal orang lain itu bukanlah sesuatu yang ada pada kendaliku. Ternyata cinta itu bukan memiliki, tapi memelihara. Jadi ibarat ada bunga yang cantik tumbuh di depan rumahku. Jika aku benar-benar sayang, takkan ku cabut bunganya. Karena dengan melihat bunga itu tumbuh, aku sudah bahagia. Sama seperti pasangan kita. Suatu hari kita pasti akan berpisah dengan pasangan kita. Meski membutuhkan kekuatan dan keikhlasan yang luar biasa. Tapi di setiap langkah, aku bersyukur dan bahagia bisa sama-sama tumbuh dengannya.